Sabtu, 28 Juli 2012

Mercon Bambu : Kenangan Ramadhan Saat Kecil

Bulan Ramadhan akan selalu menghadirkan suasana dan sisi lain yang menarik bagi masyarakat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Seperti cerita saya beberapa tahun yang lalu yang sempat saya abadikan dalam sebuah tulisan di blog coffee break berjudul : Mengenang Ramadhan Mobile. Begitu pula jika saya mengenang saat-saat saya masih kecil dahulu. Di sebuah kampung yang terletak di kaki gunung Lawu. Sebuah kampung yang menjadi saksi bisu goretan-goretan kenangan waktu kecil yang masih membekas. Bekas yang sangat jelas terlihat, setiap saat diri ini menjejakkan kaki di tanah kelahiran.

Setiap menjelang bulan puasa, biasanya banyak diantara anak-anak kampung kami yang mulai mencari bambu di pinggiran sungai. Bambu ini nantinya sebagai bahan utama untuk membuat dor-doran. Yah, dor-doran adalah istilah bagi kampung kami untuk menamai sebuah permainan mercon dari bambu. Mercon bambu ini menghasilkan suara yang begitu keras bahkan bisa terdengar dari jarak beberapa kilometer. Untuk membuat mercon bambu, biasanya saya mengajak kakak sepupu saya yang cukup mahir dalam membuat permainan khas yang satu ini.

mercon bambu di kampung


Untuk membuat mercon bambu, maka hal yang pertama kali dicari adalah bahan bambu itu sendiri. Bambu yang berumur sudah tua dan terletak di bagian pangkal selalu menjadi target kami. Karena dengan kualitas bambu yang seperti itu, bisa dipastikan suara yang dihasilkan akan menggegerkan seluruh kampung. Bahkan bisa juga dipastikan akan membuat pak RT dan warga memarahi kami :). Namun, disitulah letak sensasinya kawan!.

Dengan bahan bakar karbit yang dibeli dari sebuah toko kecil di dekat rumah, ekspedisi memainkan mercon bambu sudah siap dimulai. Waktu yang dipilih adalah sehabis isya atau sebelum imsyak. Alasannya, saat-saat seperti itu akan membuat warga agak malas meneriaki kami jika suara yang dihasilkan sangat mengganggu. Sungguh kami ini anak-anak yang bandel. Tapi begitulah, kebandelan anak-anak kecil akan selalu menjadi penghias betapa indahnya bumi tempat saya dibesarkan.

Namun, sekarang-sekarang ini sudah sangat jarang saya temui anak-anak kampung memainkan permainan unik yang satu ini. Selain karena sudah ada larangan dari pihak kepolisian, juga mungkin karena anak-anak sekarang sudah keranjingan facebook dan twitter. Sehingga permainan ke alam bebas seperti ini menjadi berkurang. Padahal di jaman saya dulu, seringkali saya harus membawa mercon bambu malam-malam ke pinggiran sawah yang agak jauh dari rumah warga, dengan hanya ditemani oleh kerlip lampu ublik. Bersama teman-teman sebaya menghidupkan suasana ramadhan yang makin semarak. Sebuah kenangan yang susah untuk dilupakan.

14 komentar:

  1. Bener bgtz Mas..anak skrg sudah gaul..mainannya BB..
    adek cowoknya, gara2 mercon bambu itu bulu matanya nyaris gundul..tpi, ttp gak kapok2..hehe
    tapi, saya gak pke karbit Mas, klo gak salah kain yg disiram pke minyak tanah..trs dmsukkin k dalamnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, anak-anak sekarang memang kurang kreatif he he.

      Hah, kok bisa ndak pake karbit. Belum pernah saya tahu yang seperti itu. Di kampung saya biasa make bahan bakar karbit. Nanti uapnya itu yang jika kena api akan meledak mengeluarkan bunyi yang sangat keras.

      Hapus
  2. entah, tapi sebenarnya ada unsur asik nya jik akita maen ini..

    toh juga mercon bambu itu tidak serta merta di mainkan di area pemukiman, malah di areal persawahan kan..?
    jadi dampaknya juga tidak terlalu besar, seperti kebakaran, atau suara yang berisik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas. Dulu saya dan kakak sepupu serta beberapa teman-teman di kampung juga untuk memainkan mercon bambu juga memilih di tengah-tengah sawah yang jauh dari perkampungan penduduk. Jadi suara-nya sebenarnya juga ndak keras-keras banget.

      Hapus
  3. Bentuknya yg mirip meriam, membuatnya lebih menarik ketika dibuat berhadapan dalam jarak beberapa puluh meter dan dimainkan di malam hari (selepas tarawih). Suasana jadi makin seru dengan memunculkan imajinasi bak medan perang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha ha bener banget mas dayat. Emang seru banget memainkan permainan yang satu ini. Ah jadi ingat ketika saya memainkannya bersama dengan anak-anak di kampung saat saya masih kecil.

      Permainan yang susah untuk dilupakan. Mengingat permainan seperti itu sudah tidak ada lagi di jaman sekarang. Kalaupun ada, pastinya sudah sangat sedikit sekali.

      Anak-anak kampung sekarang sudah mulai dengan permainan facebook dan game online. Sudah mulai melupakan bagaimana permainan-permainan sosial yang lain. Katakanlah main karet, kelereng, kasti, betengan, gobak sodor dll.

      Hapus
  4. Kalau adek saya dulu sukanya bikin balon yang dari plastik..trus diterbangkan setelah sholat idul fitri. Dan banyak banget yang melakukan itu, jadi setelah sholat idul fitri, kalau melihat ke atas, banyak sekali balon-balon yang menghiasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya ris, dulu waktu kecil suka lihat banyak balon terbang di atas kampungku. Arahnya sih dari selatan. Jangan-jangan salah satu balon terbang itu adalah balon adek kamu ris :).

      Cuma sekarang ini permainan balon terbang juga sudah tidak ada lagi. Diganti dengan permainan game online :(

      Hapus
  5. aku kok belum pernah lihat mercon bambu ini di kampungku sono ya Fin

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah masak sih mbak. Kampungnya dimana sih mbak?

      Hapus
  6. beberapa tahun yang lalu saya masih main yang kayak begini
    cuma nonton aja sih
    yang mainan mercon beginian mas-mas tetangga sebelah, tapi saya selalu ngikut di belakangnya *bawaan tomboi* :lol:

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iyakah mbak? hemm saya malah sudah lupa kapan ya terakhir saya memainkan permainan kayak gini. Seingat saya sih waktu masih SMP.

      Hapus
  7. Hwiii.. Mercon bambuuu.. Pas di kalimantan si adek masi sering main ini mas. Kalo aku sendiri bingung tapinya gimana mainnya. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he tinggal dimasukkan karbit, nanti kalau uapnya dah banyak, tinggal disulut sama api. Dan duerrrrr... siap-siap telinganya ditutup dulu.

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar di blog ini.