Senin, 03 September 2012

Ketika Menulis Sudah Mendarah Daging

Entah kenapa bagi saya menulis sudah menjadi bagian dari hidup yang susah untuk dilepaskan. Ada sensasi yang susah untuk diutarakan ketika menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat menjadi sebuah kerangka paragraf. Sensasi melihat jari jemari saya menari-nari diatas keyboard laptop kesayangan. Dan puncaknya nanti ketika saya sudah berhasil menekan tombol publish setelah sebelumnya bersusah payah menyusun sebongkah demi bongkah ide tulisan. Maka benarlah apa yang pernah dikemukakan oleh mbak Helvy Tiana Rosa bahwa menulis adalah berjuang.

Dan kini jumlah blogku yang aktif ada 3. Dengan jumlah segitu, maka praktis setiap blog tidak pernah bisa update setiap hari. Sebenarnya ingin sekali memiliki blog yang bisa update setiap hari. Menyampaikan sebuah ide ke dalam sebuah tulisan sesering mungkin. Namun ketika saya lebih memprioritaskan kepada satu blog, entah kenapa saya merasa saya menelantarkan blog yang lainnya. Akhirnya sekarang dibagi-bagi saja waktunya. Tiap 3 hari sekali jatah update untuk masing-masing blog (mirip poligami saja yah ^_^).



Tapi memang begitulah adanya. Menulis telah mendarah daging di tubuh saya. Sehari tanpa menulis, serasa sehari tanpa kopi. Maka sesibuk apapun saya, selalu menyempatkan 1-2 jam untuk menari-narikan jari saya. Apapun temanya. Kadang tema yang tidak penting sekalipun, akan saya poles untuk layak disajikan. Tentu dengan standart saya sendiri. Kalau distandarkan kepada penulis profesional, ya pasti ditertawakan.

Bagaimana denganmu kawan, apa menulis sudah menjadi bagian hidupmu?.

5 komentar:

  1. spertinya begitu Mas..
    klo gak nyoret gtu,gmn rasanya..ada yg kurang aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he.. menulis adalah seni dan inspirasi kehidupan.

      Hapus
  2. salam kenal, kunjungan pertama saya nih

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar di blog ini.